Agama, Seks dan Candu Mulai dari Perspektif Karl Marx hingga Sigmund Freud

- 8 April 2022, 15:39 WIB
ILUSTRASI kekerasan seksual
ILUSTRASI kekerasan seksual /Pixabay/geralt

HALOCILEGON.COM - Pertama kali yang mempopulerkan agama itu candu adalah Karl Max, sedangkan yang seks itu candu karena hasrat alamiah manusia yang senang berkembang biak.

Freud seorang pakar psikoanalisa meyakini bahwa perilaku atau performa manusia digerakkan oleh energi seks.

Baca Juga: Ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryamentaram tentang Rasa Sama, Rasa Iri dan Sombong, Serta Rasa Tentram

Freud memperluas pandangannya tentang dorongan seks.

Sementara orang kebanyakan (yang memandang tabu tentang seks) berpandangan bahwa seks itu adalah hubungan intim antara lawan jenis, Freud meyakini energi seksual adalah dorongan yang diteruskan ke seluruh organ atau bagian tubuh kita. 

Baca Juga: Inilah Otak Manusia yang Rekam Ingatan Jangka Panjang yang Perlu Kamu Ketahui

Pada saat seseorang mudah dikendalikan oleh otoritas agama maka dengan mudahnya pula kekerasan seks dapat terjadi, ditambah dengan ancaman dan hadiah yang diberikan ketika korban menolaknya. Budaya patriarki yang melekat kuat di dalam agama, membuat pria punya kuasa penuh dalam mengendalikan wanita sebagai objek seks.

Kalangan Agamawan yang menolak bahwa ini salah orangnya bukan agamanya, memang benar adanya, agama sebagai benda mati tidak bisa disalahkan dan yang paling bisa dimintai pertanggungjawaban adalah benda hidup yakni penganut agamanya. 

 Baca Juga: Romo Y.B Mangunwijaya: Sebelum Mempelajari Surga dan Malaikat, Mbok ya Belajar Dulu Menjadi Manusia

Kita sepakat bahwa fokus kita ada pada kekerasan seksual yang terjadi bukan pada agamanya, yang di saat bersamaan agama punya peran untuk melakukan pendidikan seksual dan kesetaraan relasi kepada para umatnya agar tanggap dan waspada terhadap kejahatan atau kekerasan seksual.***

Editor: Roby Martin


Tags

Terkait

Terkini