Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2022: Sejarah Singkat Tentang Perjuangan Perempuan

- 8 Maret 2022, 01:02 WIB
Aksi massa dari Simpul Puan melakukan longmarch dari Taman Braga menuju Gedung Sate untuk memperingati International Women's Day pada Senin, 8 Maret 2021.
Aksi massa dari Simpul Puan melakukan longmarch dari Taman Braga menuju Gedung Sate untuk memperingati International Women's Day pada Senin, 8 Maret 2021. /PORTAL JEMBER/Mohammad Syahrial

HALOCILEGON - Gerakan Feminisme telah banyak menginspirasi gerakan perempuan di berbagai belahan dunia sejak 1900an.

8 Maret sebagai momentum Hari Perempuan Internasional pada awalnya merupakan perayaan perempuan kelas pekerja.

Amerika Serikat merayakannya pertama kali pada 28 Februari 1909 di New York oleh Partai Sosialis.

Tidak terlepas dari kelompok sosialis revolusioner di seluruh dunia, 1911 merupakan awal dari perayaannya.

Bermula dari 1910 ketika Sosialis Internasional di Kopenhagen, Clara Zetkin menyarankan pembentukan Hari Perempuan Internasional untuk menghormati hak-hak perempuan serta hak pilih.

PBB mulai menetapkan pada tahun 1977 untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Sejarah berasal dari sejarah perburuhan.

Inilah ulasan mengenai tren penyebab terjadinya momentum Hari Perempuan Internasional.

Kesetaraan tetap merupakan inti dari Feminisme karena selalu di anggap rendah dalam berbagai hal.

Tatanan dunia menuju demokratisasi, sosialisme dan hak pilih adalah bukti semangat revolusioner di Eropa maupun Amerika Serikat.

Awal dari perjuangan perempuan. Seluruh kelas pekerja Eropa, laki-laki maupun perempuan berupaya mendapatkan hak suara.

Berbeda dengan Amerika Serikat, perjuangannya pada isu rasial antara laki-laki kulit hitam dan perempuan kulit putih.

Memang sangat politis, mengingat penindasan terhadap masyarakat miskin dan tidak berkuasa marak terjadi.

Pendorong hak pilih universal, dimana bebas bersuara terlepas dari kepemilikan harta di awali oleh seorang perempuan sosialis revolusioner, Clara Zetkin.

Bahkan menggabungkan gerakan sosialis kelas pekerja dan gerakan perempuan pada umumnya melalui penetapan Hari Perempuan Internasional untuk mewujudkan tujuan buruh dan perempuan.

Hak pilih adalah hak alamiah laki-laki dan perempuan, ini pendapat Clara Zetkin pada tahun 1906.

Kemenangan pertama terjadi pada pekerja tekstil dan memperjuangkan hak pilih perempuan di Amerika Serikat.

Kemenangan kedua terjadi di Petrograd (St. Petersburg), Rusia pada tahun 1917 yang di awali pemogokan besar-besaran oleh pekerja perempuan.

Meskipun bertentangan dengan serikat pekerja dan partai politik sayap kiri karena di anggap prematur, gerakan ini berhasil menyulut gerakan menjadi 200.000 orang pekerja, disusul 66.000 orang tentara lokal hingga Nicholas Tsar turun tahta.

Selanjutnya, terjadi peningkatan perempuan dalam gerakan buruh, khususnya di industri tekstil, bangkit melawan kapitalisme industri.

Tuntutannya jelas terletak pada hancurnya patriarki dan kondisi serta upah layak. Bertebaran seruan "roti dan mawar".

Semula gerakan Feminisme fokus pada Hak Azasi Manusia, lalu berlanjut untuk hak pilih perempuan.

Feminisme bergabung dengan perjuangan kelas pekerja untuk upah layak serta panggilan kebebasan dan kesetaraan untuk 1 kelompok berarti kebebasan dan kesetaraan untuk semua.

Terakhir. Gerakan anti perbudakan dan anti rasial di Amerika Serikat bergabung dengan perjuangan buruh formal maupun informal.

Gerakan ini terjadi secara singkat antara berakhirnya perang saudara dan berakhirnya Perang Dunia I.

Memberikan landasan teoritik untuk mencoba menggabungkan beragam kelompok ke dalam perjuangan revolusioner.

Di Amerika Serikat, perjuangan panjang dimulai dari 1857 melalui pemogokan besar-besaran buruh industri tekstil untuk upah, kondisi kerja dan tunjangan kesehatan maupun keselamatan.***

 

Editor: Syamsul Ma'arif

Sumber: anticapitalistresistance.org


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah